Sabtu lalu,
Saat ayah masih di Surabaya,
sang mbak asisten sakit sehingga tidak dapat membantu di rumah,
Alma positif terkena diare yang dimulai dengan muntahnya Alma di malam hari.
Alhamdulillaah kakak persis di atas bun2 datang menemani dan membantu Bun2 (cowok logh padahal).
Berikut ini tulisan bun2 yang bun2 upload ke WRM mengenai pilihan yang bun2 ambil dalam merawat Alma.
Merawat anak yang terkena diare
Tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis baru-baru ini.
Diare, penyakit yang terlihat sederhana namun sebenarnya tidak. Mengapa tidak ? Karena bila tidak segera ditangani maka akan berakibat hal yang tidak kita inginkan, yaitu
kematian.
Lingkungan sekitar sudah terjaga namun mungkin karena musim yang sedang silih berganti
terkadang hujan terkadang panas yang menyebabkan bakteri dan kuman tumbuh dengan subur.
Sebenarnya apa langkah pertama yang harus kita lakukan saat anak ternyata terkena diare ?
Oralit ! Ya, sedia selalu oralit mulai dari sekarang di rumah. Memang, oralit tradisional
bisa kita buat sendiri dengan cara melarutkan garam dan gula dalam air, namun rasanya
sungguh aneh. Bagi yang kurang menyukai rasa oralit tradisional maka dapat memperoleh oralit
dengan rasa jeruk misalnya, mudah diperoleh di apotik terdekat.
Selain konsumsi oralit setiap kali diare, pastikan selalu sang anak masih mau makan atau
minum susu agar terjaga selalu cairan di dalam tubuh.
Bawa ke Rumah Sakit ?
Bagi penulis itu adalah langkah terakhir bukan langkah awal. Observasi sudah berapa kali
diare terjadi dan sudah berapa lama. Observasi hari pertama, terjadi hingga 7 (tujuh) kali
diare dan 3 (tiga) kali muntah, namun itu pun karena setelah 6 (enam) kali diare belum ada
stok oralit di rumah, penulis bertahan merawat seorang diri anak yang masih usia 16 bulan,
karena yakin anak ini kuat terlihat dari nafsu makan dan minum susunya plus madu khusus anak
yang masih bisa dikonsumsi oleh anak.
Setelah diare ke-7, oralit baru tersedia di rumah, langsung diminumkan ke sang anak dengan
cara ditempatkan di botol susu. Alhamdulillaah setelah pemberian oralit tersebut, sang anak
kembali ceria dan keesokan harinya, BAB sang anak sudah mulai normal dan tidak terkena diare
lagi.
Sehingga, Rumah Sakit pun tiada sempat dikunjungi oleh kami.
Mengapa penulis berani mengambil keputusan Rumah Sakit adalah langkah terakhir bukan langkah
awal ?
Latar belakangnya adalah pengalaman rekan penulis yang anaknya terkena diare disertai muntah
, baru terjadi dua kali langsung dibawa ke Rumah Sakit. Dan akhirnya penanganannya adalah
diberikan obat anti mual, di-infus dengan cara yang tidak profesional sehingga menyebabkan
sang anak trauma. Kenyataannya sang anak masih mau minum susu tanda cairan tidak berkurang
banyak.
Tidak ingin perlakuan yang sama diterima sang anak berdasarkan kekuatan keyakinan yang
penulis peroleh dari membaca suatu tulisan mengenai diare yaitu
http://alyssakuw.multiply.com/reviews/item/4 dari mom Alida. Alhamdulillaah pilihan yang
diambil adalah tepat.
Satu tips terakhir, apabila perut sang anak terdeteksi kembung, segera berikan kehangatan
dengan campuran minyak kayu putih dan minyak telon yang dioleskan pada perut, punggung dan
kaki kemudian dipijat-pijat lembut.